Awal Kehidupan
Saya, Ardaman Thoha (Thoha kepanjangan dari Toyibal Hattab), lahir di Kampung Angkat, sebuah desa kecil di Kertarharja, Kecamatan Sobang, Kabupaten Pandeglang, Banten. Dalam keluarga saya sering dipanggil Amad, sementara orang lain punya banyak sebutan untuk saya. Asalkan mudah diucapkan dan bermakna baik, saya selalu menerimanya dengan senang hati.
Kami berasal dari keluarga miskin, hidup di bawah garis kemiskinan. Rumah pertama kami sederhana: sebagian lantai tanah, sebagian panggung bambu, dinding dari anyaman bambu, dapur dengan tungku, dan mandi di sumur pemandian umum. Jalan masih berupa tanah, di pinggir hutan, dengan sawah tak jauh dari rumah.
Pindah dari Satu Rumah ke Rumah Lain
Rumah kedua: pindah ke pinggir sawah, dekat nenek dari pihak ibu.
Rumah ketiga: saya tinggal di sana sampai tamat SD.
Rumah keempat: pindah ke kampung sebelumnya, rumah setengah bata dengan jendela bambu, lantai sebagian plesteran, dapur dan kamar masih tanah. Saya tinggal di sana sampai tamat SMP.
Rumah kelima: setelah SMP, saya pindah ke Sumatera. Tinggal di pondok kecil 3x3 meter di kebun sawit. Tempat tidur hanya berukuran 80 cm x 2,5 m. Jalan tanah merah yang licin saat hujan membuat keluar masuk sulit.
Saat SMA, pondok itu menjadi tempat tinggal saya selama 2,5 tahun. Setelah itu kami membuat rumah kecil dari papan dan setengah bata berukuran 6x7 meter di kebun milik bos.
Merantau dan Kehidupan Baru
Setelah tamat SMA, saya merantau ke Jakarta tahun 2015. Hanya beberapa bulan di sana, lalu pulang. Orangtua memutuskan membeli tanah secara kredit di dekat desa, yang sampai sekarang masih ditempati.
Saya sendiri, setelah menikah, membangun rumah bersama istri. Rumah itu masih kami tinggali hingga kini. Namun saya sadar, rumah hanyalah persinggahan sementara. Rumah sejati adalah tanah tempat tubuh kita dikuburkan kelak.
Perjalanan Ekonomi Keluarga
Awalnya orangtua hidup di bawah garis kemiskinan. Namun perlahan, dengan kerja keras, mereka bisa memiliki aset bernilai ratusan juta. Saya percaya setiap anak membawa rezekinya masing-masing. Kehidupan keluarga mulai terasa manis setelah adik perempuan saya lahir.
Saya tetap berusaha sekuat tenaga untuk mengubah roda kehidupan menjadi lebih baik. Inilah momen perjuangan saya.
Pekerjaan Orangtua
Ibu bekerja di rumah, sementara ayah sering merantau. Saat saya berusia sekitar 5 tahun, kenangan tentang ayah samar-samar. Baru setelah nenek dari pihak ibu meninggal, kami kembali berkumpul.
Di kampung, pekerjaan utama adalah menanam padi saat musim hujan, lalu menanam kedelai atau kacang hijau saat musim kemarau. Saat panen, ayah bekerja di sawah dibantu ibu. Ketika saya cukup kuat, saya ikut membantu mengangkut hasil panen dari sawah ke jalan.
Walau pekerjaan berat, penghasilan hanya cukup untuk beberapa hari. Dulu, untuk merontokkan padi digunakan alat bambu atau mesin manual sederhana. Butuh beberapa hari untuk menyelesaikan panen satu petak sawah.
Saya masih ingat, saat hujan angin lebat, saya tetap ikut bekerja di sawah bersama ayah. Waktu itu ibu sedang mengandung adik saya, Mutia. Saya masih kelas 6 SD, namun sudah ikut membantu di sawah.